alamat

Alamat : Jalan Jayengpawiran No 09 Pakualaman Yogyakarta Telp. 0274 516887 Email : kua.pakualaman@gmail.com

Selasa, 14 April 2015

MEMANDANG MUSIBAH DARI KACAMATA AGAMA DAN FALSAFAH JAWA

Oleh : Ghufron Su’udi

Setiap orang Islam yang tertimpa musibah, misalnya terkena duri atau yang lebih ringan dari itu sekalipun, pasti akan digunakan oleh Allah untuk menghapuskan dosa-dosa orang itu, seperti halnya sebuah pohon ketika merontokkan daunnya.

Itulah satu diantara sekian wasiat Rasulullah yang ditujukan kepada mereka yang tertimpa musibah. Nasehat ini dapat dipahami sebagai salah satu cara Rasulullah menghibur atau mengurangi kepedihan seseorang yang mendapatkan musibah, tetapi lebih dalam lagi nasehat tersebut bisa diartikan sebagai teguran. Orang yang
tertimpa musibah pastilah orang yang memiliki dosa, oleh karenanya apapun musibah yang menimpanya hendaknya dijadikan peringatan untuk segera bertaubat.
Jatuhnya pesawat Hercules milik TNI AU pada hari Rabu yang lalu masih menyisakan kesedihan yang mendalam. Musibah yang melenyapkan banyak korban jiwa  itu akan menjadi satu peristiwa yang sulit dilupakan, terutama bagi korban dan keluarga yang ditinggalkannya. Bagaimana tidak, sebuah keluarga yang saat bangun tidur masih lengkap, masih bercanda dan makan bersama. tetapi begitu pagi menjelang siang mereka harus kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Rumah penduduk yang menjadi korban, adalah hasil jerih payah dari kerja mereka yang sedikit demi sedikit mereka kumpulkan, dalam hitungan menit semuanya lenyap dan musnah. Wajar kalau timbul pertanyaan, kesalahan apa yang mereka lakukan sehingga harus menerima ujian sedemikian beratnya.
Musibah, itulah ugkapan yang patut untuk menyebut tragedi jatuhnya pesawat Hercules tersebut.. Suatu musibah ditimpakan bukan hanya kepada mereka yang berbuat kesalahan saja, tetapi siapapun termasuk yang tidak berbuat salah bisa saja tertimpa musibah. Hal itu dapat dipahami dari makna kata musibah itu sendiri, mulai dari ujian, cobaan, kesusahan, hingga bencana dan malapetaka. Dengan memahami berbagai arti musibah tersebut, maka siapapun, kapanpun dan dimanapun memiliki peluang yang sama mendapatkan musibah. Yang membedakan adalah cara atau sikap dalam menerima serta memandang suatu musibah. Oleh karena itu diperlukan cara pandang yang positif terhadap musibah, baik dari sisi agama maupun budaya.
Dari sisi agama, musibah dipahami sebagai satu kepastian dan sunnatullah. Setiap orang tidak mungkin dengan mudah akan masuk surga Allah tanpa melalui penderitaan dan cobaan (Al-Baqarah 214). Penderitaan dan cobaan akan diberikan kepada umat manusia selama menjalani kehidupannya di dunia, sebab cobaan baru berhenti kalau kita sudah di akherat, di dalam surga Allah. Jadi selama ada kehidupan dunia, selama itu pula cobaan akan datang silih berganti, meskipun dalam bentuk dan kadar yang berbeda.
Atas dasar agama dan keimanan yang kuat, kehadiran cobaan dan derita hidup akan mampu dihadapi dengan lapang dada dan hati yang ikhlas. Ia ibarat pemanis dan pelezat kehidupan, tanpanya hidup terasa tidak enak dan hambar. Dengan keyakinan yang kuat dan tekad yang membaja, akan disongsong cobaan itu dengan lapang dada dan ksatria. Akhirnya, segala cobaan dan derita akan dilalui dengan sabar dan tawakal seraya berjuang sungguh-sungguh mengatasinya serta mencari jalan keluar dari cobaan itu. Tatkala ikhtiar sudah maksimal, segala daya upaya sudah dikerjakan, maka tugas selanjutnya hanyalah berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Allah (Yusuf 86). Rintihan dan pengakuan akan ketidakberdayaan dismpaikan kepadaNya (Ali Imran 183). Kepedihan dan segala keluh kesah akhirnyapun diadukan kepadaNya (Yusuf 86).
Adapun dari kacamata budaya (falsafah) Jawa, musibah yang identik dengan penderitaan sangat erat kaitannya dengan hakekat hidup. Inti dari hakekat hidup adalah kesadaran yang tumbuh dalam setiap jiwa manusia, bahwa hidup itu tidak selalu seperti yang kita kehendaki. Pangkal penderitaan bukan muncul dan disebabkan oleh factor external manusia, tetapi justru dari dalam diri manusia itu sendiri, yaitu perasaan. Dalam diri manusia ada dua macam rasa, yaitu rasa yang merasai dan rasa yang dirasai. Rasa yang merasai menggunakan hati sebagai alatnya, maka kita harus pandai-pandai menata hati (noto ati) kita. Kalau manusia tidak bisa menata hatinya dengan baik, maka yang muncul adalah ketimpangan perasaan sebagai akibat ketidak sesuaian antara hidup yang kita kehendaki dan hidup yang sedang kita rasakan yang mungkin dianggap sebagai penderitaan. Itulah sumber penderitaan yang sesungguhnya.
Demikian juga dalam menyikapi rasa takut, falsafah Jawa mengajarkan bahwa rasa takut erat kaitannya dengan hakekat hidup juga. Sebenarnya yang ditakuti oleh manusia adalah keadaan hidup yang tidak kekal. Hal ini diakibatkan oleh penafsiran serta penggunaan harta benda secara salah. Harta benda yang semestinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan raga salah dipahami, kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan jiwa, sehingga harta yang seharusnya dicari sekedar cukup untuk hidup menjadi harta yang harus ditimbun. Penimbunan harta inilah merupakan bentuk penjelmaan dari rasa ingin hidup kekal, sebab jiwa tidak pernah terpuaskan dan merasa bosan. Kalau hidup kekal sudah bersenyawa dengan harta, orang akan takut kekurangan dan kehilangan harta bendanya (Wejangan Ki Ageng Suryomentaram).
Falsafah Jawa lainnya yang tidak kalah penting adalah tentang hirarki keberuntungan. Untung bukan yang berarti lawan kata rugi, tetapi lebih mengarah kepada anugerah dan selamat, yang dalam bahasa Jawa dipergunakan kata “bejo” Misalnya dalam unen-unen atau pepatah Jawa “wong pinter kalah karo wong bejo” (orang pandai kalah dengan orang yang beruntung). Hirarki keberuntungan ini oleh masyarakat Jawa selalu dipergunakan pada saat seseorang tertimpa satu musibah. Artinya menderita dan tertimpa musibah seperti apapun, seseorang itu masih dinilai beruntung (isih bejo). Ketika orang kehilangan rumah karena hancur akibat tertimpa pesawat, yang keluar dari mulutnya bukan ratapan kehilangan tempat tinggal, tetapi rasa syukur dan merasa beruntung karena bisa terhindar dari kobaran api yang menghanguskan rumahnya. Bagi yang terluka atau bahkan kehilangan anggota badannya, iapun masih merasa beruntung karena bisa selamat atau terhindar dari kematian. Demikianlah hirarki keberuntungan yang selalu menilai dan membandingkan sesuatu dengan yang lebih baik dan bernilai bagi seseorang. Bahkan kematianpun dianggap sebagai keberuntungan karena dinilai lebih baik dari pada hidup tetapi penuh kesusahan dan penderitaan. Dengan falsafah keberuntungan inilah akhirnya menimbulkan sifat “nrimo” (menerima) atau dalam bahasa agama disebut memiliki sifat qona’ah.
Ketika seseorang sudah memiliki sifat menerima (nrimo), dalam jiwanya akan tumbuh pribadi yang ulet, sabar dan semangat. Meskipun tertimpa musibah, dengan sisa kekuatan yang ada tetap berusaha bangkit untuk meniti, menata dan menatap kehidupan di masa datang lebih cemerlang. Sifat nrimo dan sabar dijalani tidak dengan cara-cara pasif dan pesimis, tetapi dilandasi keteguhan hati dan tidak mudah berkeluh kesah, disamping tetap memiliki daya juang dan daya usaha yang tinggi serta optimis akan datangnya pertolongan Allah.
Agama telah mendidik kita, bahwa sabar adalah menerima segala keputusan dan pemberian Allah dengan ridlo, ikhlas dan tabah. Hidup tidak lebih dari dua pilihan yang silih berganti menghampiri manusia, bahagia derita, suka duka, senyum dan air mata. Tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan, tidak ada keberhasilan tanpa jerih payah. Hanya dengan kesabaran itulah yang dapat melepaskan manusia dari keputusasaan, dan dengan sabar kita akan memperoleh kemenangan, keberhasilan dan kemudahan.
Keberhasilan dan kesuksesan hidup tidak mungkin tercapai tanpa ada kesabaran. Ibarat genting yang selalu menempati posisi tertinggi setiap bangunan, kedudukan itu tidak serta merta didapatkannya dengan mudah. Di tempat paling bawah dan tidak bernilai, dari situlah ia berasal. Sebongkah tanah liat harus benar-benar tabah menjalani proses sebelum menjadi genting. Sejak awal ia sudah menerima tempaan yang luar biasa, dicangkul, diinjak-injak, dibanting dan ditumbuk. Setelah dicetak ia harus dijemur di bawah terik matahari berhari-hari. Belum hilang rasa panas yang menyengat, bara api sudah menunggunya, ia harus dibakar dengan suhu yang lebih panas dari sebelumnya. Itulah perjalanan panjang sebuah genting yang penuh perjuangan tetapi tetap sabar menjalaninya hingga akhirnya ia mencapai puncak ketinggian.
Akhirnya, semoga para korban jatuhnya pesawat Hercules tetap mendapatkan kesabaran dan ketabahan, Allah senantiasa akan tetap bersama orang-orang yang sabar.










Ghufron Su’udi, S.Ag, staf Lembaga Studi Pemikiran Islam dan Sosial (LeSIS) dan Penghulu KUA Kec.Jetis Kota Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar